Publikasi Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor . HJB ke-544: Kecamatan Dramaga Tampilkan Wayang Ramayana Dan Simbol Tanah Bersejarah ‎ 

BOGORKU.id | DRAMAGA – Sebanyak 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor memamerkan keunikan budayanya dalam Helaran Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 di Alun-alun Kabupaten Bogor. Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Kecamatan Dramaga dengan pertunjukan seni wayang yang mengangkat kisah legendaris Rama dan Shinta.

Kegiatan ini bertujuan menyadarkan seluruh lapisan masyarakat bahwa kekayaan budaya tradisional memiliki nilai luar biasa dan wajib terus diketahui serta dilestarikan. Turut hadir mendampingi rombongan antara lain unsur Forkopimcam, para Kepala Desa, Sekretaris Desa, Istri Kepala Desa, perangkat desa, serta penampilan khusus dari Sanggar Seni Amuara asal Desa Petir.

Bacaan Lainnya

‎Dalam helaran bertema “Mapag Pajajaran Anyar” ini, sejumlah kecamatan menampilkan identitas daerah masing-masing, mulai dari busana adat kerajaan, kesenian tradisional, hingga Ethnic Fashion Carnival di hadapan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi. Perhelatan yang meriah ini juga diisi pembagian 5.000 porsi makanan gratis serta upaya pemecahan Rekor MURI lewat pentas kolosal 2.000 karinding.

‎Camat Dramaga, Atep S Sumarno, menyampaikan keikutsertaan ini bukan sekadar memeriahkan momen, melainkan menjadi ajang memperkuat persaudaraan antarwarga. “Helaran ‘Mapag Pajajaran Anyar’ menjadi simbol semangat Kabupaten Bogor dalam melestarikan budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat pada peringatan Hari Jadi tahun ini,” ujarnya.

‎Selain pertunjukan seni, Dramaga juga membawa makna mendalam melalui kegiatan simbolis pengambilan tanah dan air. Langkah ini selaras dengan arahan Bupati Bogor melalui Dinas Kebudayaan, serta gerakan pelestarian budaya yang dicanangkan: Ngalokat Syekh Keramat dan Ngalokat Tanah Leluhur.

‎Pengambilan simbolis dilakukan di lokasi bersejarah di Desa Purwasari, yaitu bekas Situ Uncal yang mata airnya masih tetap mengalir, serta Gubug Kempon – tempat yang diyakini warga sebagai lokasi pertemuan terakhir para tokoh masa lalu. Tanah dan air ini kemudian dibawa sebagai simbol kebersamaan dan identitas Kecamatan Dramaga dalam perayaan HJB.

‎Diharapkan, momen ini makin menggerakkan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya, sekaligus melestarikan jejak sejarah leluhur sesuai arahan pimpinan daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *