Bogorku.id – NANGGUNG – Meski harus menempuh kegiatan belajar mengajar di bawah tenda terpal di halaman sekolah, semangat siswa SDN Cadas Leueur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, untuk menuntut ilmu tak surut. Kondisi ini terpaksa dilakukan karena sejumlah bangunan ruang kelas rusak parah dan dinilai membahayakan keselamatan.
Sudah dua hari belakangan ini puluhan siswa belajar “ngemper” sambil menunggu terealisasinya bantuan perbaikan atau rehabilitasi ruang kelas.
Siti Nuraini, salah satu siswi, mengaku merasa tidak nyaman belajar dengan kondisi seperti itu. Selain khawatir jika angin kencang menerpa terpal, ia juga merasa cepat lelah dan pegal.
”Kurang enak, takut sekali kalau ada angin kencang takut terpalnya roboh. Badan juga jadi pegal-pegal saat belajar begini,” ungkap Siti, Selasa (21/7/2026).
Ia pun menyampaikan harapan sederhana agar pemerintah segera membangun atau memperbaiki ruang kelas yang layak, sehingga mereka bisa belajar dengan tenang seperti siswa di sekolah lainnya.
”Sangat berharap sekolah ini segera dibangun kembali. Pasti rasanya akan jauh lebih nyaman, bisa belajar di dalam ruangan yang layak seperti teman-teman di sekolah lain,” ucapnya berharap.
Senada disampaikan Iwan, salah satu guru di sekolah tersebut. Kebijakan belajar di luar ruangan murni inisiatif pihak sekolah demi keamanan, sehingga proses belajar kini dibagi menjadi dua sesi, pagi dan siang, mengingat keterbatasan tempat yang aman.
”Ini murni keputusan kepala sekolah demi keamanan, karena kita kekurangan ruang kelas yang layak. Jadi siswa harus bergantian belajar pagi dan siang,” jelas Iwan.
Saat ini terdapat 49 siswa yang terpaksa belajar di halaman sekolah berteduh terpal, sementara ruangan yang ada sudah tidak bisa digunakan karena kerusakan yang mengkhawatirkan.
Pihak sekolah sebenarnya sudah berulang kali mengajukan usulan perbaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) mulai dari tingkat desa hingga kecamatan, bahkan sejak masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya. Namun hingga saat ini belum ada realisasi.
”Kami sudah berkali-kali usulkan lewat Musrenbang, tapi entah bagaimana nasibnya saat sampai di dinas, seolah data kami hilang. Padahal sudah masuk, yang terwujud justru sekolah lain. Kami pun tidak tahu persis apa penyebabnya,” keluhnya.
Ia memohon perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bogor agar pembangunan sarana pendidikan benar-benar merata.
”Kami berharap pemerintah dapat melakukan pemerataan pembangunan fisik. Jangan sampai sekolah yang kondisinya masih bagus justru ditambah fasilitasnya, sementara sekolah yang sudah rusak parah seperti kami dibiarkan begitu saja,” pungkas Iwan.











