Cemas Bangunan Ambrol, SDN Cadas Leueur Nanggung Pindahkan KBM ke Tenda Terpal ‎

‎Bogorku.id – NANGGUNG – Demi mengantisipasi risiko bahaya, pihak sekolah SDN Cadas Leueur, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, terpaksa memindahkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ke luar ruangan menggunakan tenda terpal mulai Senin (20/7/2026).

Langkah ini diambil lantaran sangat khawatir jika bangunan sekolah ambruk sewaktu-waktu saat jam belajar berlangsung.

Kepala Sekolah SDN Cadas Leueur, Juhaeriyah, menjelaskan rasa tidak tenang terus menghantui setiap hari mengingat kondisi bangunan yang sudah sangat memprihatinkan.

‎”Setiap hari di jam sekolah kami merasa tidak tenang dan selalu was-was. Maka kami berinisiatif memasang tenda terpal untuk kegiatan belajar mulai Senin besok,” ujar Juhaeriyah saat ditemui Minggu (19/7/2026).

Bacaan Lainnya

‎Keputusan ini diambil semata-mata demi keselamatan ratusan siswa . Terlebih, .elihat kondisi bangunan yang rawan roboh, Ia  tidak ingin mengambil risiko jika musibah terjadi saat proses belajar berlangsung.

‎”Coba kalau gedung ini ambruk saat jam belajar dan menimbulkan korban, siapa yang akan bertanggung jawab?  Kami tidak mau mengambil risiko demi keselamatan  siswa KBM di luar sekolah,” tegasnya.



Menurut Juhaeriyah, pembangunan ulang gedung sekolah ini sudah menjadi prioritas tahun 2026 mengingat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan.

Pihak sekolah setiap tahun terus mengajukan usulan perbaikan melalui Dinas Pendidikan dan Bappeda Litbang. Pemerintah Desa Bantarkaret pun turut mengusulkan hal yang sama dalam Musrenbang tingkat Kecamatan pada 13 Februari lalu yang dihadiri anggota DPRD Kabupaten Bogor, namun hingga saat ini belum ada realisasi.

‎Kini sebagian besar bangunan sekolah sudah lapuk, genting dan plafon beberapa kali terlihat jatuh saat kegiatan berlangsung. Ruang guru, ruang kepala sekolah, hingga dua ruang kelas sudah tidak layak digunakan, namun kondisi ini dibiarkan berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti.

‎”Hampir seluruh bangunan sudah lapuk dan sangat membahayakan. Guru maupun murid pernah tertimpa material genting dan plafon yang lepas,” pungkas Juhaeriyah.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *